Senin, 09 November 2015

METODE PENELITIAN HIPOTESIS | CHI SQUARE

BAB I
LATAR BELAKANG


1.1              Latar Belakang Permasalahan
                        Persaingan dalam bidang usaha di Indonesia semakin pesat, dalam hal tersebut para pengusaha harus lebih keras lagi, agar dapat bertahan dan meningkatkan pangsa pasar serta mendapatkan konsumen baru. Perusahaan tersebut harus mempunyai strategi pemasaran yang tepat, agar usahanya bisa bertahan  untuk mendapatkan persaingan teratas dan tujuan dari perusahaan tersebut tercapai.
PT. GLOBAL BAKERY adalah perusahaan yang bergerak dibidang industri makanan ringan skala menengah ingin melakukan pengamatan terhadap 5 cabang toko kue dan 5 jenis kue terhadap hasil penjualan kue tersebut.

1.2        Tujuan Penelitian
             Menguji kebebasan (independensi) antara suatu 5 cabang toko kue dan 5 jenis kue terhadap hasil penjualan kue tersebut yang dilakukan oleh perusahaan GLOBAL BAKERY.


BAB III
PEMBAHASAN


3.1       Studi Kasus
Studi kasus merupakan suatu alat yang menjelaskan masalah penelitian yang ada. Berikut ini adalah studi kasusnya. PT GLOBAL BAKERY adalah sebuah perusahaan dibidang industri makanan skala menengah yang menjual berbagai jenis kue. Perusahaan ingin melakukan pengamatan terhadap 5 cabang toko kue dan 5 jenis kue dengan hasil penjualan kue tersebut. Perusahaan melakukan pengamatan dalam waktu satu hari dengan jumlah kue yang diproduksi secara keseluruhan sebanyak 1000 kue. Berikut ini adalah data hasil pengamatan yang didapatkan.
Tabel 3.2 Data pengamatan Chi-Square
Toko
Jenis Kue
Donat
Cake
Muffin
Roti
Brownies
Toko 1
49
21
57
51
22
Toko 2
50
18
58
49
24
Toko 3
52
22
60
46
21
Toko 4
47
19
62
53
24
Toko 5
48
16
55
48
28
       Berdasarkan data di atas, maka akan diuji apakah antara jenis kue dengan letak toko saling bebas terhadap hasil penjualannya. Pengujian tersebut dengan menggunakan taraf nyata sebesar 5%.

3.2       Perhitungan Manual
            Berikut ini adalah perhitungan manual untuk uji kebebasan chi-square berdasarkan studi kasus pada PT GLOBAL BAKERY.

1.    Uji Kebebasan Chi-Square
a. Menentukan formulasi hipotesis
     Menentukan formulasi hipotesis harus disesuaikan dengan studi kasus yang telah dibuat. Maka formulasi hipotesis dapat diperoleh dengan cara sebagai berikut:
H0= Jenis kue dengan letak toko saling bebas terhadap hasil penjualannya   (kategori yang satu bebas dari kategori lainnya).
H1=  Jenis kue dengan letak toko tidak saling bebas terhadap hasil penjualannya (kategori yang satu tidak bebas dari kategori lainnya).
b. Menentukan taraf nyata (α) dan nilai X2 tabel.
     Menentukan taraf nyata (α) dengan X2 tabelnya, yang ditentukan dengan menghitung derajat bebas dengan rumus (k - 1) (b - 1).
Taraf nyata (α) = 0,05
Derajat bebas = (k-1)(b-1) = (5-1)(5-1) = 16
X20,05(16) = 26,296
c. Kriteria pengujian
     Kriteria pengujian digunakan untuk menguji jika nilai Xo2 lebih kecil atau sama dengan nilai X2 α(k – 1)(b – 1)  maka H0 diterima, dan menguji jika nilai X02 lebih besar dari nilai X2 α(k – 1)(b – 1)  maka H0 ditolak.
H0 diterima apabila Xo2 < 26,296
H0 ditolak apabila Xo2 > 26,296
d. Menentukan nilai uji statistik
     Langkah keempat adalah menentukan nilai uji statistik. Menentukan nilai uji statistik dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
    
     Fe =
     n1 = 200           n2 = 199           n3 = 201           n4 = 205           n5 = 195
     n1 = 246            n2 = 96            n3 = 292           n4 = 247           n5 = 119
     n = 1000
Tabel 3.4 Frekuensi Observasi dan Frekuensi Harapan
Toko
Jenis Kue
Total
Donat
Cake
Muffin
Roti
Brownies
Fo
Fe
Fo
Fe
Fo
Fe
Fo
Fe
Fo
Fe
Fo
Fe
Toko 1
49
49,2
21
19,2
57
58,4
51
49,4
22
23,8
200
200
Toko 2
50
49
18
19,1
58
58,1
49
49,2
24
23,6
199
199
Toko 3
52
49,4
22
19,3
60
58,7
46
49,6
21
24
201
201
Toko 4
47
50,4
19
19,7
62
59,9
53
50,6
24
24,4
205
205
Toko 5
48
48
16
18,7
55
56,9
48
48,2
28
23,3
195
195
Total
246
246
96
96
292
292
247
247
119
119
1000
1000

Contoh perhitungan:
Fe =
Fe donat pada toko1 =
Tabel 3.5 Perhitungan Uji Chi-square
No.
Fo
Fe
 Fo-Fe
1
49
49,2
49-49,2 = -0,2
2
21
19,2
1,8
0,169
3
57
58,4
-1,4
0,033





Tabel 3.5 Perhitungan Uji Chi-square (Lanjutan)
No.
Fo
Fe
 Fo-Fe
4
51
49,4
1,6
0,052
5
22
23,8
-1,8
0,136
6
50
49
1
0,02
7
18
19,1
-1,1
0,063
8
58
58,1
-0,1
0,0002
9
49
49,2
-0,2
0,0008
10
24
23,6
0,4
0,0068
11
52
49,4
2,6
0,137
12
22
19,3
2,7
0,378
13
60
58,7
1,3
0,029
14
46
49,6
-3,6
0,261
15
21
24
-3
0,375
16
47
50,4
-3,4
0,229
17
19
19,7
-0,7
0,025
18
62
59,9
2,1
0,0736
19
53
50,6
2,4
0,114
20
24
24,4
-0,4
0,0065
21
48
48
0
0
22
16
18,7
-2,7
0,39
23
55
56,9
-1,9
0,063
24
48
48,2
-0,2
0,00083
25
28
23,2
4,8
0,993
Jumlah
3,56
e.    Kesimpulan
       Menyimpulkan jika H0 diterima atau ditolak dengan membandingkan antara nilai X02 atau uji statistik pada tabel dengan kriteria pengujian. Kesimpulan yang didapat adalah sebagai berikut:
Nilai Xo2 = 3,56 < X20,05(16) = 26,296 maka H0 diterima. Jadi jenis kue dengan letak toko saling bebas terhadap hasil penjualannya.

3.3  Analisis Uji Kebebasan Chi-square
       Berikut ini adalah analisis dari uji kebebasan chi-square. Langkah perhitungan manual untuk uji kebebasan chi-square terdiri dari 5 langkah. Langkah pertama, melakukan pengujian hipotesis dimana H0 menyatakan jenis kue dengan letak toko saling bebas terhadap hasil penjualannya   dan H1 menyatakan jenis kue dengan letak toko tidak saling bebas terhadap hasil penjualannya. Langkah kedua adalah menentukan taraf nyata (α) sebesar 0,05, kemudian menghitung derajat bebas dengan rumus (k-1)(b-1) dengan hasil sebesar 16. Didapatkan nilai X20,05(16) = 26,296 yang didapatkan dati tabel Chi-square. Langkah ketiga adalah menentukan kriteria pengujian, dimana H0 diterima apabila Xo2 < 26,296 dan H0 ditolak apabila Xo2 > 26,296. Langkah keempat adalah menentukan nilai uji statistik dengan mencari nilai frekuensi harapan dari nilai frekuensi observasi yang berjumlah 1000. Nilai Xo2 didapatkan dengan cara hasil kuadrat dari pengurangan frekuensi observasi dengan frekuensi harapan dibagi dengan frekuensi harapan. Hasil dari 25 data tersebut dijumlahkan dan didapatkan hasil sebesar 3,56. Kesimpulan yang didapatkan adalah nilai Xo2 = 3,56 < X20,05(16) = 26,296 maka H0 diterima. Jadi jenis kue dengan letak toko saling bebas terhadap hasil penjualannya.



Minggu, 11 Oktober 2015

Tugas Falsafah Ilmu Pengetahuan

1.1  PENGERTIAN FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN
Makna filsafat dari segi bahasa filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia atau philosophos. Philos atau philein berarti teman atau cinta, dan shopia shopos kebijaksanaan, pengetahuan, dan hikmah atau berarti. Filsafat berarti juga mater scientiarum yang artinya induk dari segala ilmu pengetahuan. Kata filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata falsafah (Arab), philosophie (Prancis, Belanda dan Jerman), serta philosophy (Inggris). Dengan demikian filsafat berarti mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (menjadi kata sifat) bisa berarti teman kebijaksanaan (kata benda) atau induk dari segala ilmu pengetahuan.
Ø Phytagoras (572-497 SM) ditahbiskan sebagai orang pertama yang memakai kata philosopia yang berarti pecinta kebijaksanaan (lover of wisdom) bukan kebijaksanaan itu sendiri.
Ø Plato (427-347 SM) mengartikannya sebagai ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang hakiki lewat dialektika.
Ø Aristoteles (382–322 SM) mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan tentang kebenaran.
Ø Al-Farabi (870–950) mengartikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan hakekat alam yang sebenarnya.
Ø Descartes (1590–1650) mendefinisikan filsafat sebagai kumpulan ilmu pengetahuan tentang tuhan, alam dan manusia.
Ø Immanuel Kant (1724 –1804) mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan. Menurut kant ada empat hal yang dikaji dalam filsafat yaitu: apa yang dapat manusia ketahui? (metafisika), apa yang seharusnya diketahui manusia?(etika), sampai dimana harapan manusia? (agama) dan apakah manusia itu? (antropologi).
Pengertian Ilmu terbagi 3 pendapat, yaitu:
Ø Ilmu merupakan bagian dari Epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengtahuan ilmiah).
Ø Ilmu berasal dari bahasa Arab: ‘alima, ya’lamu, ‘ilman yang berarti mengetahui, memahami dan mengerti benar-benar. Dalam bahasa Inggris disebut Science, dari bahasa Latin yang berasal dari kata Scientia (pengetahuan) atau Scire (mengetahui). Sedangkan dalam bahasa Yunani adalah Episteme (pengetahuan).
Ø Dalam kamus Bahasa Indonesia, ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang tersusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang itu (Kamus Bahasa Indonesia, 1998).
Pengertian pengetahuan, sebagai berikut:
Ø Dalam Encyclopedia of Philosophy, pengetahuan didefinisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief).  
Ø Menurut Sidi Gazalba, pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan mengetahui. Mengetahui itu hasil kenal, sadar, insaf, mengerti, benar dan pandai. Pengetahuan itu harus benar, kalau tidak benar maka bukan pengetahuan tetapi kekeliruan atau kontradiksi. Pengetahuan merupakan hasil suatu proses atau pengalaman yang sadar.
Ø Pengetahuan (knowledge) merupakan terminology generic yang mencakup seluruh hal yang diketahui manusia. Dengan demikian pengetahuan adalah kemampuan manusia seperti perasaan, pikiran, pengalaman, pengamatan, dan intuisi yang mampu menangkap alam dan kehidupannya serta mengabstraksikannya untuk mencapai suatu tujuan.
1.2    HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT DENGAN ILMU PENGETAHUAN
Filsafat sering disebut sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan. Sejarah ilmu pengetahuan memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan berasal dan berkembang dari filsafat. Sebelum ilmu pengetahuan lahir, filsafat telah memberikan landasannya yang kuat. Para filsuf Yunani Klasik seperti Demokritos sampai tiga serangkai guru dan murid yang sangat terkenal yakni Socrates, Plato, dan Aristoteles telah berbicara tentang atom, naluri, emosi, bilangan dan ilmu hitung (matematika), demokrasi, sistem pemerintahan dan kemasyarakatan, yang kemudian dikembangkan oleh fisika, biologi, kedokteran, matematika, biologi, ilmu budaya, psikologi, sosiologi, dan ilmu politik.
 Kedudukan filsafat dan hubungannya dengan ilmu pengetahuan sebagai berikut:
1.    Tujuan filsafat untuk memahami hakikat dari sesuatu obyek yang menjadi kajiannya tetap dipertahankan, tetapi informasi atau pengetahuan yang menunjangnya harus bisa dipertanggungjawabkan  bukan hanya secara rasional (logis), tetapi juga secara faktual (dialami langsung dalam kehidupan kita). Oleh sebab itu, filsafat (harus) mengadakan kontak dengan ilmu pengetahuan, mengambil banyak informasi atau teori-teori terbaru darinya, dan mengembangkannya secara filosofis. Inilah yang telah dilakukan misalnya oleh Bergson, Cassirer, Husserl, Foucault, dan para filsul modern serta kontemporer lainnya. Pemikiran filsafati yang dikembangkan oleh mereka sangat kaya dengan ilustrasi-ilustrasi yang berasal dari temuan-temuan ilmiah yang berkembang pada zamannya.
2.    Tujuan filsafat untuk mempersoalkan nilai dari suatu obyek tetap dipertahankan. Hal ini pun dilakukan filsafat terhadap ilmu pengetahuan. Akibatnya, temuan-temuan ilmiah yang dinilai tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan (dan juga ketuhanan), diberi kritik atau dikoreksi. Ingat misalnya, masalah kloning dan euthanasia. Filsafat memberikan evaluasi dan kritik terhadap dampak moral dan kemanusiaan  kedua masalah tersebut bagi hidup manusia.
3.    Filsafat pun melakukan kajian dan kritik terhadap persoalan-persoalan metodologi ilmu pengetahuan. Ini misalnya dilakukan dalam filsafat ilmu pengetahuan. Kritik filsafat atas cara kerja dan metodologi ilmu pengetahuan pada prinsipnya menguntungkan, karena dapat menjernihkan dan menyempurnakan ilmu pengetahuan. Kajian positivisme Auguste Comte (1798-1857), neo-positivisme (positivisme logis), falsifikasionisme Karl Popper (1902-1994), dan bahkan fenomenologi Edmund Husserl (1859-1938) tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga memperkaya khazanah ilmu, khususnya ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan (humaniora). Kritik-kritik mereka terhadap ilmu-ilmu sosial dan humaniora melahirkan paradigma-paradigma baru dalam ilmu sosial yakni yang bersifat humanistik dan kritis, di samping positivistik.
1.3  MANUSIA DAN ILMU PENGETAHUAN
Filsafat ilmu merupakan cabang ilmu filsafat yang sangat berguna untuk menjelaskan apa tujuan ilmu bagi manusia. Secara garis besar, filsafat ilmu mengemukakan alasan yang mendasar mengapa pengetahuan diperlukan bagi keteraturan dalam hidup manusia. Dalam hubungannya dengan antara filsafat ilmu dan teori hukum saling berhubungan erat. Di satu sisi, filsafat ilmu adalah bisa digunakan sebagai bahan dasar pembuat teori hukum. Dalam hal ini, teori hukum memang sengaja dirancang untuk lebih bersifat aplikatif dan mampu mmenjawab persoalan keadilan di tengah-tengah masyarakat.
Filsafat ilmu bisa menjadi dasar bagi suatu perenungan atau pemikiran secara ketat, secara mendalam tentang pertimbangan nilai-nilai di balik gejala-gejala hukum sebagaimana dapat diamati oleh pancaindera manusia mengenai perbuatan-perbuatan manusia dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat. Mengingat objek filsafat ilmu adalah pengetahuan, maka masalah atau pertanyaan yang dibahas oleh filsafat ilmu itupun antara lain berkaitan dengan manfaat dari pengetahuan itu sendiri.
1.4  KELAHIRAN ILMU PENGETAHUAN MODERN
Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah.
Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern ini sesungguhnya sudah
dirintis sejak zaman Renaissance. Awal mula dari suatu masa baru ditandai oleh
usaha besar dari Descartes untuk memberikan kepada filsafat suatu bangunan yang baru. Filsafat berkembang bukan pada zaman Renaissance itu, melainkan kelak pada zaman sesudahnya (Zaman Modern).
Renaissance lebih dari sekedar kebangkitan dunia modern. Renaissance ialah periode penemuan manusia dan dunia, merupakan periode perkembangan peradaban yang terletak di ujung atau sesudah abad kegelapan sampai muncul abad modern. Zaman ini juga disebut sebagai zaman Humanisme. Maksud ungkapan ini ialah manusia diangkat dari abad pertengahan yang mana manusia dianggap kurang dihargai sebagai manusia. Kebenaran diukur berdasarkan ukuran Gereja (Kristen), bukan menurut ukuran yang dibuat manusia. Humanisme menghendaki ukuran haruslah manusia. Karena manusia mempunyai kemampuan berpikir, maka humanisme menganggap manusia mampu mengatur dirinya dan mengatur dunia.
Jadi, zaman modern filsafat didahului oleh zaman Renaissance. Sebenarnya secara esensial zaman Renaissance itu, dalam filsafat, tidak berbeda dari zaman modern. Ciri-ciri filsafat Renaissance ada pada filsafat modern. Tokoh pertama filsafat modern adalah Descartes. Pada filsafat kita menemukan ciri-ciri Renaissance tersebut. Ciri itu antara lain ialah menghidupkan kembali Rasionalisme Yunani (Renaissance), Individualisme, Humanisme, lepas dari pengaruh agama dan lain-lain.
Filsafat modern menampakkan karakteristiknya dengan lahirnya aneka aliran-aliran besar filsafat, yang diawali oleh Rasionalisme dan Empirisme. Selain kedua aliran itu, juga akan
diketengahkan aliran-aliran besar lainnya yang ikut  berperan mengisi lembaran filsafat modern, yaitu idealisme, materialisme, positivisme, fenomenologi, eksistensialisme dan pragmatisme.
Pada masa modern ini berhasil menempatkan manusia pada tempat yang sentral dalam padanan kehidupan sehingga corak pemikirannya antroposentris, yaitu pemikiran filsafatnya mendasarkan pada akal fikir dan pengalaman Rene Descartes (1596-1650) sebagai bapak filsafat modern ini berhasil memadukan antara metode ilmu alam dengan ilmu pasti kedalam pemikiran filsafat. Pada abad ke-18, perkembangan pemikiran filsafat mengarah pada filsafat ilmu pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
-      Bdk. Louis Kattsoff, terje. Soejono Soemargono, Pengantar Filsafat, Yogyakarta, 1989, 87
-      FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN. Oleh: Dr. Slamet Ibrahim S. DEA. Apt. Sekolah Farmasi ITB. 2008
-     Hardiman F.Budi,Filsafat modern,gramedia,jakarta 2004.

-      http://journal.uii.ac.id/index.php/Unisia/article/download/2399/2469